Skip to content

Benarkah Penangkapan BW Murni Perseteruan KPK vs Polri ?

27 Januari 2015

Berkaitan dengan penangkapan Bambang Widjojanto kemarin, banyak pihak menduga bahwa ini merupakan perseteruan Cicak vs Buaya jilid 3. Dugaan seperti itu sangat wajar mengingat setiap ada petinggi Polri ditersangkakan oleh KPK, Polri selalu melakukan perlawanan seperti ini. Kebiasaan ini dipandang sebagai modus Polri dalam menghadapi KPK.

Tapi, yang mesti kita pertanyakan sekali lagi adalah benarkah kasus penangkapan BW yang keren ini-meminjam istilah yang digunakan putra BW dalam mengomentari penangkapan ayahnya- adalah memang murni perseteruan KPK versus Polri ?

Kalau merunut pada penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK tepat ketika ybs diusulkan sebagai calon tunggal Kapolri, bisa jadi penangkapan BW kemarin merupakan bentuk dendam Polri kepada KPK. Bahkan salah satu mentri kabinet kerja menuduh penetapan TSK pada BG sungguh tidak beretika. Omongan mentri seperti itu tentu makin memicu kemarahan pihak Polri kepada KPK.

Tapi, apakah masalah BW ini memang murni berkaitan dengan ‘kemarahan Polri’ saja ?


Tentu sebagian besar rakyat kita mahfum bahwa kisruh KPK vs Polri kali ini dimulai dari usulan BG sebagai calon tunggal Kapolri kepada DPR. Belum hangat usulan itu masuk Senayan, KPK dengan serta merta menetapkan BG sebagai tersangka. Tentu saja penetapan BG sebagai TSK sangat mengejutkan banyak pihak, terutama lingkungan presiden dan kepolisian, walau pun sebelumnya mereka sudah paham bahwa BG merupakan salah satu polisi yang diduga memiliki rekening gendut.

Sejak penetapan tersebut, mulailah terjadi serangan-serangan yang ditujukan kepada pimpinan-pimpinan KPK. Pertama, beredar foto mesra AS dengan Putri Indonesia. Untunglah, baru sehari beredar, beberapa ahli multi media bisa langsung mendeteksi kepalsuan foto-foto tersebut.
Sadar kalau ‘jualan’ tersebut tidak laku, digelarlah ‘jualan’ lain. Kali ini uji cobanya melalui blog Kompasiana. Adalah Sawito, anggota Kompasiana yang masih baru dan belum ada satu pun tulisannya, menulis sebuah artikel panjang yang diberi judul ‘Rumah Kaca Abraham Samad’. Di dalam tulisan tersebut, penulisnya mengupas tentang keinginan AS yang pernah mendekati orang-orang PDIP supaya dicalonkan sebagai cawapresnya Jokowi. Dst…Dst.

AS membantah tulisan tersebut dan menuduh tulisan itu sebagai fitnah. Setelah AS membantah, buru-buru Hasto, plt sekjen PDIP, mengadakan konferensi pers. Dalam konferensi pers tersebut, Hasto membenarkan tulisan ‘Rumah Kaca Abraham Samad’. Bahkan dia menambahi bahwa dia dan teman-temannya telah didekati AS untuk mewujudkan keinginannya sebagai cawapres. Untungnya,pada hari yang sama,tokoh PDIP lain, Tjahjo Kumolo dan Andi Wijayanto menjelaskan bahwa tidak benar PDIP pernah mencalonkan kan AS sebagai cawapres.

Besoknya, tiba-tiba, serombongan polisi menangkap BW saat yang bersangkutan mengantarkan anaknya ke sekolah. Polisi menjelaskan bahwa penangkapan BW adalah atas laporan masyarakat. Masyarakat siapakah ? Ternyata ekspornya adalah Sugianto,yang merupakan anggota DPR dari FPDIP.
Setelah melalui upaya yang cukup dramatis dari para tokoh penggiat anti korupsi, yang oleh mentri Tedjo dianggap masyarakat yang gak jelas, menjelang pagi BW akhirnya dilepaskan. Statusnya sebagai tersangka masih tetap.

Sehari setelah BW dilepas, tiba-tiba Adnan Pandu Pradja oleh kuasa hukum salah satu PT di Kaltim. Namun sampai saat ini masih belum ada informasi jelas mengenai kaitan PT tersebut dengan PDIP.
Dan, terakhir, Zulkarnaen pun akhirnya dilaporkan ke Bareskrim oleh seorang mantan napi karena kasus korupsi, yang juga mantan ketua DPRD Jatim. Pelapor ini dulu adalah politisi PKNU dan sekarang mengaku sebagai simpatisan Nasdem. Dia adalah Fathuroosyid. Mantan napi ini menuduh Zulkarnaen telah menerima suap berupa uang 5 milyar dan sedan Camry.

Melihat serangan terhadap ketua-ketua KPK yang cukup beruntun dan dalam waktu singkat, saya kira wajar saja kalau rakyat menilai bahwa serangan-serangan terhadap ketua KPK yang ada dilakukan secara sistematis dan punya tujuan melemahkan KPK. Selain itu, dengan dilaporkannya ke 4 pimpinan KPK seperti itu, jika semuanya dijadikan tersangka, pasti KPK bakal lumpuh. Maka, berakhir pulalah perang terhadap korupsi.

Kemudian, kalau kita sedikit kilas balik, serangan-serangan kepada KPK dimulai setelah lembaga anti rasuah itu menetapkan calon Kapolri sebagai tersangka. Dan publik beranggapan, penetapan BG sebagai calon Kapolri itu atas titah Megawati, maka masyarakat pun beranggapan bahwa konflik yang terjadi saat ini adalah KPK vs PDIP. Polri dipandang hanya diperalat oleh oknum-oknum di PDIP.
Tapi, buat apa PDIP punya niat melemahkan KPK ? Bukankah dulu, lembaga KPK dulu berdiri di jaman Megawati ? Masak yang mendidirikan juga mau menghancurkan, seperti itu biasanya para politisi PDIP berkilah. Namun, pada bulan Agustus tahun lalu, Abraham Samad pernah menyampaikan ke publik bahwa dalam waktu dekat KPK akan memanggil mantan presiden Megawati berkaitan dengan masalah BLBI. Ada banyak pertanyaan, mungkinkah ‘serangan’ terhadap pimpinan KPK saat ini berkaitan dengan pernyataan Abraham Samad tersebut ?

Kemungkinan lain, bisa jadi ada sekelompok penjahat yang memang ingin mengacaukan negeri ini dengan memanfaatkan ego dari petinggi-petinggi lembaga-lembaga negara kita. Karena kelompok ini tahu kelemahan tersebut, maka dimanfaatkannya kelemahan ini untuk membuat negeri kita chaos supaya kepercayaan terhadap pemerintahan Jokowi merosot.

Atau bisa juga ini permainan sekelompok koruptor kakap yang khawatir dengan penegakan hukum yang kuat oleh KPK. Demi melindungi keselamatan mereka, maka diciptakannya suasana perseteruan KPK vs Polri seperti saat ini. Kalau dugaan ini benar, maka yang terlibat dalam upaya pelemahan saat ini pasti banyak partai.

Dan kemungkinan yang lain, bisa jadi sumber kekacauan ini berasal dari ulah para partai pendukung yang terus minta “jatah” sebagai balas budi dukungan mereka kepada Jokowi. Barangkali karena banyak permintaan mereka tidak dipenuhi Jokowi, maka mereka membuat semacam tes case. Tujuannya supaya Jokowi ngerti betapa bahayanya jika Jokowi tanpa dukungan mereka. Kemungkinan ini juga diungkapkan beberapa politisi PDIP akhir-akhir ini.

Yang mana yang benar ? Wallahualam bisawab.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: