Skip to content

Pendidikan Masa Depan

28 Maret 2015

Tulisan ini merupakan tanggapan saya atas sebuah artikel yang berjudul “Why America’s obsession with STEM education is dangerous” oleh Fareed Zakaria yang dimuat di Washington Post, yang diberikan oleh Cak Umar Syaifullah di group Beranda Komunitas Pendidikan. Tanggapan ini saya buat dalam bentuk sebuah tulisan karena sangat panjang, mengingat begitu luasnya bahasan yang disampaikan oleh penulis artikel di Koran Washington Post tersebut. Selain, memang sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

Secara garis besar, penulis artikel ini, Fareed Zakaria, menyoroti gagasan dalam dunia pendidikan yang mengembangkan model yang lebih mengedepankan STEM (science, technology, engineering and math), seraya mengurangi pendidikan humaniora. Gagasan ini muncul karena terus jebloknya skor hasil tes anak-anak AS pada pelajaran matematika dan sains. Bahkan, skor matematika dan sains mereka kalah jauh dengan skor anak-anak dari Asia. Sehingga, mereka ingin meniru pendidikan yang menekankan hafalan dan pencapaian skor tes ala Asia. Di samping juga karena dorongan dari dunia industri dan dunia usaha.


Amerika sangat meyakini kebaikan pembelajaran berbasis STEM ini. Selain menerapkan di negara mereka sendiri, masyarakat AS juga mengekspor model pendidikan tersebut ke negara lain. Di Indonesia, salah satu agen yang membawa misi penyebaran ini adalah USAID ( United States Agency for International Development ). Oleh karena itu, ahli-ahli pendidikan kita juga mesti mengkaji positif-negatifnya model pembelajaran berbasis STEM ini.
Jujur saja, sebelumnya saya tidak memahami sama sekali apa itu metode pembelajaran STEM. Pengetahuan saya tentang STEM justru setelah saya membaca artikel yang ditulis oleh Fareed Zakaria tersebut. Untuk itu saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Cak Umar atas kiriman link-nya.
Oleh karena hal itu lah, maka poin of view saya tentang STEM tidak jauh berbeda dengan Fareed Zakaria. Penulis ini mengingatkan bahwa dengan mengambil ide ini, Amerika dalam bahaya. Masa depan Amerika benar-benar dipertaruhkan. Ia tidak menampik bahwa sain dan teknologi merupakan komponen yang sangat penting. Tapi, pendidikan Bahasa Inggris dan Filsafat juga tak kalah pentingnya. Untuk memperkuat argumennya, ia mengutip omongan Steve Jobs ketika merilis IPad edisi barunya : “it’s in Apple’s DNA that technology alone is not enough — that it’s technology married with liberal arts, married with the humanities, that yields us the result that makes our hearts sing.”
Selanjutnya saya tidak akan mengulang argument-argumen yang dimajukan Fareed Zakaria untuk menilai pendidikan berbasis STEM di atas. Saya hanya akan mengajukan data-data yang kebanyakan saya ambil dari buku “A Whole New Mind” karangan Daniel H.Pink, yang dapat mendukung argument-argumen Fareed. (buku ini ditulis tahun 2005)
Perhatikan fenomena-fenomena mencengangkan berikut :
• Lebih dari separuh perusahaan ( sebagian besar berasal dari AS ) yang ada dalam Fortune 500 mengalihkan pengerjaan software ke India Satu dari empat pekerjaan IT telah berpindah dari AS ke seberang lautan ( Asia ) pada 2010
• Menurut Riset Forrester, sedikitnya 3,3 juta pekerjaan intelektual dan $136 milyar upah akan berpindah dari AS ke negara-negara berupah rendah seperti India, Cina, dan Rusia di tahun 2015
• Inggris akan kehilangan sekitar 25.000 pekerjaan IT dan lebih dari 30.000 posisi keuangan ke India dan bangsa berkembang lainnya dalam tahun-tahun mendatang. Di tahun 2015, Eropa akan kehilangan 1,2 juta pekerjaan, pindah ke tempat-tempat di seberang lautan.
Prognosisnya adalah jika fenomena tersebut dibiarkan berlarut-larut atau ditangani secara salah maka hipotesis Fareed bisa menjadi kenyataan. “ Masa depan Amerika benar-benar dalam bahaya”, karena akan terjadi ledakan pengangguran pada angkatan kerja produktif mereka. Kalau berjuta-juta pekerjaan berpindah dari AS ke India dan Asia, bukankah masuk akal kalau masa depan Amerika berada dalam bahaya ?
Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah mengapa banyak perusahaan di AS memindahkan pekerjaan mereka ke Asia dan India ? Apakah karena skor tes matematika dan sains pelajar-pelajar AS yang secara umum lebih rendah dibanding pelajar-pelajar Asia ? Atau perusahaan-perusahaan itu merasa bahwa kompetensi sains, teknologi, enginering dan matematika angkatan kerja AS lebih rendah dari angkatan kerja Asia ?
Ternyata bukan ! Perusahaan-perusahaan tersebut sebagian besar tak mau ambil pusing dengan skor matematika dan sains pelamar kerjanya. Mereka hanya peduli pada kompetensi spesialisasi dan gaji yang diminta para pelamar kerja tersebut. Faktanya : tenaga-tenaga kerja Asia dan India tidak berbeda jauh kompetensi keahliannya dibanding sejawat mereka dari AS. Namun, gaji yang diminta tenaga kerja Asia dan India jauh lebih rendah. Simak data-data berikut:
• Desainer, di AS paling murah digaji sekitar $7000/bulan, di India digaji $1000/ bulan
• Insinyur aerospace, di AS digaji sekitar $6000/ bulan, di Rusia gajinya sekitar $650/ bulan
• Akuntan di AS digaji $5000 sebulan, sementara di Filipina hanya $300/ bulan
• Untuk pekerjaan sebagai programmer bank, mereka digaji $14.000/ tahun. Sementara rekannya dari Amerika menuntut gaji $70.000/ tahun.
Mengapa tenaga kerja dari Asia dan India mau digaji jauh di bawah rekan-rekan mereka dari AS, karena pendapatan per kapita mereka memang jauh lebih rendah dari negara AS. Karena data tersebut diambil dari buku yang ditulis pada tahun 2005, pasti angka-angka tersebut telah banyak mengalami perubahan seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita masing-masing negara. Tapi saya yakin, perbandingan antara masing-masing negara tidak terlalu mengalami perbedaan. Ini faktor pertama yang mendorong perusahaan-perusahaan besar mereka memindahkan pekerjaan mereka ke Dunia Timur.
Negara-negara berkembang terus menghasilkan pekerja-pekerja intelektual yang berorientasi otak kiri ( yang menekankan Science, Technology, Engineering, dan Math ) yang hebat. Sebagai contoh : Setiap tahun India meluluskan sekitar 350.000 insinyur. Indonesia juga menggenjot pembangunan dan peningkatan SMK dan politeknik. Ini secara tidak langsung hendak memberijaminan kepada dunia industri Barat bahwa tenaga kerja mereka tidak kalah canggih dengan lulusan-lusan sekolah di Barat. Maka, pekerjaan berorientasi otak kiri yang bersifat standar dan rutin seperti analisa keuangan, radiologi, dan programing komputer akan berpindah ke negara-negara berkembang.
Sedangkan faktor yang ketiga adalah kemajuan teknologi informasi. Dengan kemajuan teknologi fiber optic, maka biaya komunikasi ke belahan dunia lain hampir mencapai titik nol. Inilah yang menyebabkan terpisah jarak sejauh apa pun tidak lagi menjadi beban bagi biaya produksi.
Faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam mempersiapkan tenaga kerja adalah meningkatnya otomatisasi dan computerized. Sat ini teknologi sedang meyakinkan kita bahwa mesin dan komputer dapat mengganti pekerjaan otak kiri yang bersifat eksakta. Banyak pekerjaan “Pekerja Intelektual’ ( pekerja dengan dominasi otak kiri ) dilakukan oleh komputer atau online. Pekerjaan yang mengandung rutinitas memang tidak akan lenyap, tetapi banyak berkurang, dan sisanya akan berubah bentuk.
Beberapa tahun terakhir , sekitar 100 juta orang di seluruh dunia mencari informasi kesehatan dengan mengunjungi 23.000 situs medis. Peran dokter berubah dari profesional yang maha tahu menjadi penasehat yg penuh empati terhadap berbagai opsi. Para programmer telah mengembangkan aplikasi yang bisa melakukan diagnosis penyakit pasien. Di bidang hukum, masyarakat mencari dan berkonsultasi hukum secara online. Ini juga merubah peranan profesi penasehat hukum, minimal praktek mereka berbiaya murah. Pekerjaan perhitungan statistik,akutansi, programer komputer, dll banyak dilakukan oleh program-program komputer.
Akibat situasi dunia kerja yang mengalami pergeseran yang cukup dahsyat, maka harus diperhatikan hal-hal berikut. Kemampuan otak kiri tetap perlu, tetapi harus dilengkapi dengan kemampuan otak kanan : membangun relasi daripada menjalankan transaksi,mengatasi tantangan baru daripada mengatasi problem rutin, dan mensintesakan gambaran menyeluruh daripada menganalisa komponen tunggal. Pekerjaan di masa akan datang akan lebih mengandalkan kreativitas daripada sekadar kompetensi.
Para pekerja Amerika, Eropa dan Jepang harus mencari lahan baru yang bukan didominasi otak kiri, melainkan dunia otak kanan. Artinya, jika pemerintah AS dan kawan-kawannya ngeyel memaksakan pendidikan berbasis STEM pada generasi mudanya, itu sama saja dengan melempar anak-anak muda mereka ke laut merah yang berdarah-darah bersaing dengan rekan-rekan mereka dari Asia dan India. Karena pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kekuatan otak kiri telah dikuasai tenaga kerja Asia dan India, maka mereka harus mencari wilayah baru. Mereka harus mulai mengeksplorasi diri untuk pekerjaan-pekerjaan yang mengutamakan potensi otak kanan, dengan tetap menguasai pekerjaan yang memerlukan kemampuan otak kiri. AS dan Dunia Barat harus mengembangkan pendidikan yang lebih mengeksplorasi potensi otak kanan yang lebih dekat dengan ilmu-ilmu humaniora. Namun harus dihindari pendidikan humaniora yang hanya berorientasi hafalan dan mengejar skor tes semata.
Ingat yang dikatakan Steve Jobs diatas, teknologi saja tidak cukup. Ia harus dikolaborasikan dengan seni dan kemanusiaan. Bukankah ini artinya memasuki ilmu-ilmu humaniora yang hendak direduksi dalam pembelajaran berbasis STEM di AS ?
Lalu…bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia ?

Catatan : argumen Fareed Zakaria pada paragraf terakhir juga layak untuk didiskusikan. “One final reason to value a liberal education lies in its roots. For most of human history, all education was skills-based. Hunters, farmers and warriors taught their young to hunt, farm and fight. But about 2,500 years ago, that changed in Greece, which began to experiment with a new form of government: democracy. This innovation in government required an innovation in education. Basic skills for sustenance were no longer sufficient. Citizens also had to learn how to manage their own societies and practice self-government. They still do.”
Semoga pada kesempatan lain kita bisa mendiskusikannya.

3 Komentar leave one →
  1. 3 Juni 2015 2:33 pm

    Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia? Kemampuan sains dan mathematika siswa-siswa Indonesia termasuk peringkat paling bawah di dunia. Perlu menekankan sains dan mathematika dengan ilmu lainnya tiga banding satu.

    • 18 Juni 2015 3:59 pm

      Terima kasih atas kunjungannya Mas Herry. Maaf baru bisa membalas. Kalau menurut saya, sebaiknya pendidikan kita mulai mengembangkan kedua sisi otak siswa secara seimbang. Jadi, tidak hanya terlalu menitik-beratkan pengembangan otak kiri saja selama ini. Hal ini karena, seperti uraian di atas, bahwa kebutuhan akan kompetensi otak kanan merupakan keniscayaan di masa depan.

      • 30 September 2015 11:13 am

        Saya tanya apa ada d3 progsus. Farmasi di UT?? Saya udah daftar di iik tapi biaya nya mahal sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: