Skip to content

UKG Hanya Cermin Bagi Guru ?

30 November 2015

Beberapa minggu lalu beredar video yang berisi ucapan Mendikbud berkaitan dengan pelaksanaan UKG. Salah satu item yang disampaikan oleh Mendikbud adalah hasil UKG nanti merupakan cermin bagi guru. Atau dengan kalimat yang lebih jelas, hasil UKG nanti merupakan gambaran kualitas, khususnya di bidang pedagogik dan profesionalisme para guru. Pernyataan tersebut diulang lagi oleh Mentri Anies Baswedan saat beliau menjadi salah satu nara sumber di acara Mata Najwa edisi 26 November 2015 lalu.

Bisa jadi pernyataan  itu menjadikan sebagian besar guru-guru kita sungguh serius mempersiapkan diri menghadapi UKG tahun ini dibanding UKG tahun 2013. Karena itu tidaklah mengherankan jika  guru-guru menjadi sangat rajin belajar. Persiapan mereka seperti murid-murid yang akan menghadapi UN. Pendeknya,tiada waktu tanpa belajar. Bahkan beberapa guru sampai mendatangkan dosen LPTK untuk memberikan materi profesi dan paedagogi. Semacam bimbel untuk persiapan menghadapi UN.UKG-2015-Simulasi-Soal-Pariwisata-SMK-Online

Jika melihat keseriusan mereka, UKG tahun ini sepertinya mampu mendorong semangat belajar mereka. Guru, mohon maaf, yang selama ini mau mempelajari teori-teori pendidikan dan pengajaran hanya di saat mengikuti pelatihan, kini mereka  mempelajari ilmu yang berkaitan dengan profesi mereka secara mandiri. Baik berkelompok maupun sendiri-sendiri.

Karena itu, jika UKG ini bisa dilaksanakan secara rutin, saya yakin kompetensi guru-guru kita, terutama secara kognitif akan meningkat pesat. Mungkin saja saat ini mereka merasa terpaksa belajar ilmu paedagogik dan profesi, namun pasti dapat mendongkrak kompetensi mereka di bidang ilmu pendidikan, yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan kita secara keseluruhan.

Cermin Bagi Siapa ?

Menurut berita yang beredar, rata-rata hasil UKG tahun 2013 masih di bawah satndar, yakni 47. Barangkali karena perolehan jeblok itu, mentri Anies buru-buru membuat pernyataan bahwa hasil UKG merupakan cermin dari kemampuan guru dalam mengerjakan soal-soal UKG. Siapa pun bisa menerima pernyataan itu. Namun, menganggap hasil UKG sebagai cermin bagi guru saja tentu tidak adil. Ini sama dengan menganggap hasil UN sebagai cermin kualitas murid saja. Bukankah hasil UN seharusnya juga merupakan gambaran keberhasilan sekolah dalam mengelola dan mengembangkan pembelajaran bagi siswa ?

 

Demikian pula dengan hasil UKG. Mestinya tidak hanya dipandang sebagai cerminan kualitas guru saja. Menurut hemat saya, hasil ujian itu juga menjadi cermin keberhasilan pemerintah, dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan, di dalam membina profesionalisme guru-guru. Bukankah kementrian ini telah menghabiskan anggaran negara yang cukup besar untuk meningkatkan profesionalisme guru ? Apakah efektivitas penggunaan anggaran negara ini cukup memadai ?

 

Dari hasil UKG nanti mestinya juga bisa dipakai untuk mengevaluasi apakah kegiatan-kegiatan pelatihan guru, workshop, seminar dan sejenisnya yang dilaksanakan dinas pendidikan, sebagai kepanjangan kementrian pendidikan, cukup efektif ? Apakah modul-modul yang dikeluarkan kementrian pendidikan cukup mudah dimengerti oleh sebagian besar guru-guru kita ? Dan apakah instruktur-instruktur yang ditunjuk dalam kegiatan-kegiatan pelatihan guru telah terseleksi dengan valid ? Dan banyak pertanyaan lain yang seharusnya menjadi bahan refleksi bagi kementrian yang memiliki anggaran 20% dari total APBN ini.

 

Ketika nanti hasil UKG seperti tahun lalu, rata-rata nasional nilanya di bawah 50, jangan hanya guru yang disorot sebagai tidak kompeten. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga harus berani melakukan koreksi diri demi perbaikan upaya-upaya meningkatkan profesionalisme guru di masa yang akan datang.

 

Bukan rahasia lagi, berbagai kegiatan seperti pelatihan, workshop maupun seminar yang diberikan untuk guru, selama ini, terkesan hanya untuk melaksanakan proyek dan menghabiskan dana saja. Bagaimana hasilnya bagi guru seperti tidak terlalu menjadi pertimbangan. Begitu juga dengan modul-modul yang menyertai pelatihan. Sebagian besar guru merasa terlalu sulit memahaminya. Bahasanya terlalu “ndakik”. Tidak cocok dengan guru, terutama guru-guru senior yangd sudah lama berpisah dengan bangku perkuliahan.

 

Semoga saja, UKG yang akan dilaksanakan secara periodik ini dapat membawa angin segar bagi peningkatan mutu pendidikan nasional kita. Syaratnya, guru-guru dan pemerintah sama-sama mau membuka diri. Dalam arti, mau menerima kelemahan masing-masing dan berkomitmen untuk memperbaikinya.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: