Lanjut ke konten

Pecinta Bola Yang Merusak Persepak-bolaan Kita

25 Mei 2014

Acara ILK di Trans7 biasanya hanya mengajak penonton untuk berhaha-hihi, tanpa ada yang lain. Ini sesuai dg taglinenya: Memecahkan Masalah Tanpa Solusi. Namun, pada malam ini agak berbeda. Acara yg mengambil topik ‘Gila Bola’ ini mendatangkan mantan pemain bola Kurniawan Dwi Yulianto dan salah satu mantan wasit bola terbaik kita, Jimmy Napitupulu.

Yg menarik adalah pengakuan Jimmy mengenai mengapa wasit kadang2 bersikap tidak adil, seperti sering kita lihat. Wasit, di beberapa pertandingan, cenderung membela tim tuan rumah. Keputusan-keputusan mereka banyak menguntungkan tim tuan rumah.

Melihat fenomena tersebut, publik biasanya mempersepsi bahwa sang wasit menerima suap dari tim tuan rumah. Dan, maaf, bisa jadi anggapan kita benar. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi sehingga wasit-wasit di beberapa pertandingan bersikap unfair seperti itu ?

Inilah pengakuan mengejutkan dari mantan wasit terbaik kita, Jimmy Napitulu.

Di dalam pertandingan bola, kata Jimmy, seringkali terdapat orang-orang berbadan tegap dan tinggi besar. Menurut panitia, orang-orang tersebut digunakan untuk pengamanan wasit. Tapi, faktanya, orang-orang ini justru dipergunakan untuk meneror wasit oleh tim tuan rumah guna memenangkan timnya. Kadang-kadang, ‘bodyguard-bodyguard’ ini mengikuti wasit saat ke kamar kecil. Di sana mereka, tak segan, menendang wasit dari belakang. Tujuannya adalah untuk meneror wasit.

Tindakan teror tak hanya dilakukan oleh para ‘preman’ saja. Kadang-kadang suporter kita juga tidak mau tim yang dibelanya kalah. Apa pun caranya, tim mereka harus menang. Kalau sampai tim mereka kalah, mereka bisa ngamuk gak karuan. Sikap suporter yang ngawur itu juga seperti teror bagi wasit.

Wasit adalah juga manusia, begitu kata Jimmy. Diperlakukan dengan tindakan premanisme seperti itu, beberapa wasit, pasti merasa ketakutan. Akibatnya, demi keamanan, mau tidak mau mereka akhirnya memenangkan tim tuan rumah. Inilah salah satu sebab mengapa wasit-wasit kita sulit bertindak objektif.

Dengan sikap dan tindakan seperti itu, Jimmy menyimpulkan bahwa sesungguhnya masyarakat kita bukanlah pecinta sepak bola, tapi pecinta klub. Mereka bukan ingin menonton sebuah permainan bola yang sportif dan indah, tapi mereka hanya ingin melihat timnya menang. Apa pun caranya. Mungkin, faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa sepak bola Indonesia sulit maju dan mearih prestasi.

Di akhir acar, seperti biasanya, Kang Maman, sebagai No Tulen, membuat satu kesimpulan menarik. Salah satu kesimpulannya adalah mendatangi stadion untuk menonton bola mestinya sama dengan menghadiri pesta. Di sana harusnya untuk bersenang-senang. Bukan untuk menebar teror dan mengakibatkan kematian

Refleksi di May Day : Belajar Dari Sang CEO Starbucks

1 Mei 2014

“Di belakang setiap cangkir Starbucks ada biji kopi bermutu paling tinggi di dunia, yang didapatkan secara etis; barista-barista ( semacam bar tender, tapi tugasnya meracik kopi, pen. ) Dengan jaminan pelayanan kesehatan dan memiliki saham perusahaan; petani-petani yang diperlakukan secara adil dan manusiawi; sebuah misi untuk memperlakukan orang dengan hormat dan bermartabat; serta pakar-pakar kopi bersemangat dengan pengetahuan tentang kopi yang tidak dapat ditandingi oleh perusahaan kopi lain mana pun.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan oleh Howard Schultz, CEO yang sekaligus pendiri Starbucks. Kalimat-kalimat itu terucap ketika baru Howard Schultz menjabat CEO untuk kedua kalinya, dalam misi membangkitkan kembali kejayaan Raja Kedai Kopi itu dari keterpurukan akibat kesalahan strategi dari CEO sebelumnya, Jim Donald.

Siang itu, Howard Schultz mengumpulkan seluruh karyawan Starbucks di sebuah tempat terbuka. Dengan berkumpul di tempat terbuka, Sang CEO bertujuan membangkitan semangat para karyawan agar tidak larut dalam kecemasan terhadap kinerja Starbucks yang terus menurun di segala aspek. Howard Schultz sangat yakin bahwa sebagian karyawan sedang dirundung kekhawatiran oleh bayang-bayang kebangkrutan Starbucks. Di samping, tentu saja untuk menjelaskan strategi-strategi yang akan dia ambil.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dari kalimat-kalimat Howard Schultz di atas. Pertama, kalimat ” Di belakang setiap cangkir Starbucks ada biji kopi bermutu paling tinggi di dunia, yang didapatkan secara etis.”

Dalam menjaga mutu kopi di kedai-kedai Starbucks di seluruh penjuru dunia, mereka akan memberi pelanggannya biji-biji kopi pilihan terbaik di dunia. Karena, core bussines dari Starbucks adalah jualan kopi, maka mereka akan menyajikan kopi terbaik. Dan, di era Howard yang kedua ini, fokus bisnis Starbucks akan kembali ke sini.

Selanjutnya, biji-biji kopi tersebut akan didapatkan ” dengan cara yang etis”. Inilah janji luar biasa dari Starbucks, mendapatkan biji-biji kopi terbaik dengan cara yang etis. Perlakuan etis tersebut diberikan kepada petani-petani kopi yang menjadi mitranya. Petani-petani tersebut diperlakukan dengan cara adil dan manusiawi.

Inilah sebuah konsep kerja-sama dengan mitranya yang visioner. Konsep bisnis yang kuno biasanya berupaya mendapatkan bahan baku semurah-murahnya dan menjual ke pelanggan-pelanggannya semahal mungkin. Andai konsep ini dipakai oleh Starbucks, pasti mereka akan menekan harga kopi semurah mungkin. Sebuah sikap yang tidak adil dan tidak manusiawi. Tetapi, sebagaimana diucapkan oleh Schultz, sikap rakus tersebut tidak dilakukan oleh Starbucks. Ini adalah human spirit yang dipegang Howard Schultz. Kepada pelanggan Starbucks berjanji akan menyajikan kopi-kopi pilihan, yang dikumpulkan dari berbagai belahan dunia, demi memuaskan pelanggannya di satyu pihak. Di pihak lain, ia akan memperlakukan para petani kopi mitranya dengan cara yang adil dan manusiawi.

Sikap mulia lain yang ditunjukkan oleh Starbucks adalah keputusan memberi karyawan tidak tetap mereka saham perusahaan dan jaminan kesehatan. Bandingkan dengan keputusan pemerintah kita yang memberlakukan model outsourcing. Dengan model tersebut, penghargaan terhadap tenaga kerja benar-benar direduksi hingga titik minimal. Hak-hak mereka banyak yang dihilangkan. Model outsourcing membuat tenaga kerja kita tidak pernah “merasa tenang dan aman”. Maka wajar kalau dalam bekerja mereka tidak dengan sepenuh hati, karena mereka tidak akan pernah merasa memiliki perusahaan tempat mereka bekerja. Juga wajar bila mereka seringkali melakukan demo massal karena mereka selalu dipenuhi perasaan tidak puas dan perasaan tidak aman.

Barangkali sikap visioner dari Schultz terhadap suplier ( petani kopi ), pelanggan dan tenaga kerja yang dimilikinya bisa menjadi cermin bagi pemilik-pemilik bisnis yang lain. Ke depan, memperlakukan berbagai pihak ( suplier, pelanggan, dan karyawan ) dengan sikap yang adil, manusiawi dan bermartabat, akan menjadi kunci sustainability perusahaan. Ketika karyawan selalu dihantui kecemasan akan masa depannya, hari tuanya, pendidikan anaknya, dan jaminan kesehatannya, mustahil menuntut mereka bekerja dengan sepenuh hati. Padahal, produk-produk yang berkualitas selalu lahir dari pekerja-pekerja yang bekerja dengan sepenuh hati. Lebih dari itu, memperlakukan tenaga kerja dalam sistem outsourcing adalah kebijakan yang tidak manusiawi.

Semoga Kasus JIS Menjadi Blessing in Disguise

22 April 2014

Gambar

Hari-hari belakangan ini, berbagai media, baik cetak, elektronik, online, maupun social media hampir selalu memuat hiruk-pikuk yang timbul pasca pemilu legislatif. Namun, di sela kegaduhan tersebut, muncul berita tak sedap yang menghentakkan kesadaran kita, yang muncul dari dunia pendidikan, yakni kasus pelecehan seksual yang terjadi di Jakarta International School ( JIS ).

Beberapa hari ini, media-media kita gencar memberitakan kasus pelecehan seksual di sekolah TK tersebut. Pertanyaan kita, mengapa media begitu gencar memberitakan dan mengapa masyarakat begitu ‘andus’ membicarakan kejahatan seksual di sekolah yang memungut biaya ratusan juta kepada orangtua murid ini ? Padahal, kejahatan serupa juga sering terjadi di sekolah-sekolah lain tetapi tidak menjadi ‘pembicaraan nasional’ seperti saat ini.

Menurut hemat saya, sentimen kebangsaan kita sangat terusik dan kita menjadi marah tatkala mendengar berita ternyata sekolah milik asing tersebut bisa bobrok. Ternyata, sekolah yang tertutup pagar kokoh, yang katanya pengawas sekolah sampai gak berani masuk, menyimpan penjahat seksual di dalamnya. Ternyata, sekolah internasional tersebut sudah dua puluh tahun ‘membuka praktek’ di sini tanpa memiliki ijin dan kementrian pendidikan tidak mengerti ketiadaan ijin tersebut. Padahal, untuk sekolah internasional, yang berhak mengeluarkan ijin adalah Kementrian Pendidikan. Bagaimana mungkin orang-orang dari Kementrian Pendidikan sampai tidak tahu kalau sekolah internasional yang berada di Jakarta tersebut belum mengantongi ijin ?

Dan kita semakin marah setelah tahu, di sekolah internasional itu tidak diajarkan pelajaran sejarah, Bahasa Indonesia, kewarga-negaraan, dan pelajaran agama. Kita marah karena tanpa pelajaran-pelajaran tersebut sejak kanak-kana, apakah bisa lahir generasi yang memiliki cinta kepada negerinya ? Jangan-jangan ada agenda asing yang bertujuan mencetak anak-anak kita untuk menjadi ‘penjaga kepentingan asing’ yang justru akan menginjak-injak bangsa sendiri. Bukankah begitu biasanya modus penjajah dalam memanfaatkan anak bangsa supaya bisa diperalat untuk menjajah bangsanya sendiri ?

Konon, biaya pendidikan di sekolah internasioan itu mencapai ratusan juta rupiah. Dengan biaya sedahsyat itu tentu hanya kelas atas saja yang sanggup membayarnya. Kelas atas dalam arti orang yang sangat kaya raya dan kemungkinan para intelektual. Dan kita sangat prihatin dengan ini : ternyata orang-orang kaya dan sebagian intelektual kita adalah inlander. Pengagum bangsa asing yang tidak memiliki rasa tanggungjawab untuk mengembangkan dunia pendidikan kita. Bayangkan saja, jika biaya yang mereka serahkan ke sekolah-sekolah asing itu untuk membangun dunia pendidikan kita, tentu jauh lebih bermanfaat buat negeri ini. Mudah-mudahan dengan kasus JIS ini membuat mata mereka terbuka bahwa sekolah yang mereka kagumi itu ternyata tidak sebaik yang mereka kira. Mudah-mudahan mereka segera menyadari dan mental inlander mereka sedikit demi sedikit bisa berkurang.

Mental inlander sepertinya juga kita dapati pada pejabat-pejabat Kementrian Pendidikan kita. Adalah hal yang mustahil jika pejabat-pejabat di lingkungan kementrian ini sampai tidak tahu ada sekolah berlabel internasional berdiri di depan mata mereka selama lebih dari 20 tahun tanpa mengantongi ijin. Dugaan saya ada dua yang membuat mereka membiarkan saja sekolah itu berdiri tanpa ijin, yakni karena uang atau ketakutan terhadap kepentingan asing.

Harapan-harapan
Harapan pertama atas terjadinya kasus JIS ini adalah pemerintah melakukan tindakan yang adil dan sepatutnya. Sementara ini, yang dikenai sangsi hukum hanyalah pelaku kejahatan seksualnya saja. Pihak manajemen sekolah seolah tak tersentuh hukum kita. Padahal, kalau digali lebih jauh, pasti ada kelalaian pihak sekolah sehingga memungkinkan terjadinya pelecehan seksual terhadap muridnya.

Saat ini, memang sekolah tersebut oleh Dirjen PAUDNI dilarang menerima murid. Tapi larangan tersebut bukan karena terjadinya kasus pelecehan seksual pada murid, melainkan karena sekolah tersebut tidak berijin. Apakah pihak sekolah memang dipandang tidak perlu ikut memikul tanggung-jawab atas terjadinya kasus tersebut ? Atau karena takut mengusut warga bule yang terhormat itu ? Mudah-mudahan, gencarnya perbincangan soal kasus ini bisa mendorong keberanian pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya.

Harapan berikutnya, mudah-mudahan kasus JIS ini bisa membangkitkan rasa kebangsaan kita untuk membangun dunia pendidikan kita menjadi lebih baik dan lebih bermartabat. Seluruh elemen bangsa harus merasa bertanggung-jawab untuk membangun dunia pendidikan sesuai dengan kepribadian kita dan trend jaman. Hal ini perlu dilakukan, supaya kalangan atas yang bermental inlander dan kemaruk dengan brand internasional mau menyekolahkan anak-anaknya pada sekolah kita. Kita tidak ingin, sebagian anak-anak kita di-‘brainwashing sehingga luntur kecintaannya pada bangsa sendiri.

Dan, last but not least, harapan itu bisa terwujud bilamana ahli-ahli pendidikan kita juga bisa menghilangkan mental inlander-nya. Selama ini, perubahan-perubahan di dunia pendidikan kita selalu memakai acuan model dan paradigma dari luar. Seakan-akan dari luar-lah yang terbaik. Ahli-ahli pendidikan kita seakan mencoba menelan bulat-bulat segala konsep pendidikan dari luar. Sikap tawadu’ tanpa reserve seperti itu jelas dapat menghilangkan daya kritis mereka. Mereka seakan tanpa pernah memeriksa, apakah konsep-konsep tersebut cocok dengan kepentingan dan kepribadian bangsa kita ?

Padahal kita sendiri punya model pendidikan yang diciptakan oleh anak bangsa sendiri, yakni konsep pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantoro. Paling yang kita tahu hanya sepenggak kalimat : Ing ngarso sung tuladha dst. Bagaimana konsep pendidikan beliau secara menyeluruh sepertinya banyak yang tidak memahami. Saya yakin, sebagian besar pemikiran beliau masih relevan untuk diterapkan. Masalahnya, mau tidak kita menggali dan mengembangkan konsep pendidikan beliau ? Jawabnya terpulang kepada kita semua.

Sebuah Catatan Untuk Duel Farhat vs El

29 November 2013
Setelah dibuat terperanjat oleh sebuah peristiwa nyeleneh dokter2 demo, publik mungkin akan dibuat terheran2 lagi oleh sebuah peristiwa memalukan. Konon, tak lama lagi akan digelar sebuah adu tinju dari partai illegal. Yg bakal bertinju adalah Farhat vs El ( Ahmad El Jalaluddin Rumi ), anak Ahmad Dhani.

Dari segi apa pun pertandingan tsb sungguh gak layak digelar. Pertama, kedua ‘petinju’ ini sebelumnya bukan dikenal sebagai petinju. Karena itu, kita menduga, salah satu atau keduanya tidak mengerti aturan-aturan resmi dalam bertinju. Karena itu, bisa diduga, ‘pertandingan tinju’ tersebut akan menjadi ajang tawur antara orang dewasa melawan anak-anak. Farhat berusia 37 tahun dan El berusia 14 tahun. 

kedua, dalam pertandingan tinju, para petinju yang akan bertanding harus memiliki berat badan yang relatif sama sehingga masuk klasifikasi dalam kelas yang sama. Nah, pertindingan antara Farhat vs El ini berada dalam kategori yang berbeda. Farhat berbobot 81 kg, sementara El hanya berbobot 46 kg. Secara teori, besarnya perbedaan bobot seperti ini bisa membahayakan keselamatan petinju, terutama bagi yang berbobot lebih ringan. 

Jadi, sekali lagi, pertandingan tinju antara Farhat vs El sungguh tidak layak digelar. Karena, pertandingan tersebut semata-mata hanya merupakan ajang permusuhan dan pertengkaran  saja. Tak ubahnya sebuah pertarungan jalanan yang dilegalkan. Tapi anehnya, Pertina-wadah petinju amatir-kabarnya menyetujui pertandingan ini. Kita tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan Pertina menyetujui digelarnya pertandingan tersebut.

Kalau kita cermati, pertandingan tinju antara Farhat vs El hanyalah kelanjutan pertengkaran Farhat vs keluarga Ahmad Dhani. Dan perseteruan ini telah menjadi konsumsi publik karena dilakukan secara terbuka melalui  sosial media, tweeter. Ditambah lagi dengan dikompori oleh media elektronik melalui acara infotaiment atau live show.

Yang menjadi keprihatinan kita, perseteruan yang telah diketahui secara luas tersebut malah dikompor-kompori. Dalam acara salah satu stasiun TV swasta, tantangan anak-anak Ahmad Dhani kepada Farhat , meski tidak secara langsung, malah didukung. House acara tersebut sama sekali tidak berusaha menasehati anak-anak Dhani yang masih kanak-kanak untuk mengurungkan tantangannya.

Satu hal lagi yang bisa bikin kita tidak habis mengerti adalah salah satu rekan satu profesi dengan Farhat, Hotman Paris, berkoar mau menyediakan hadiah sebesar 250 juta perak buat pemenang pertandingan ilegal itu. Dan ini malah mendorong anak Dhani makin ngebet untuk merebut hadiah itu.

Yang patut menjadi renungan kita, kenapa kita menjadi bangsa yang senang melihat orang bertengkar ?  Mengapa hampir tidak ada yang berupaya mendamaikan pertengkaran gak penting antara Farhat vs keluarga Dhani ? Binatang saja tidak malah menjadi pengompor ketika ada kawannya bertarung, tapi  mengapa kita malah menjadi kompor ? Apakah ini pertanda terjadi kemerosotan peradaban kita hingga di bawah level binatang ? Mari kita tanya hati kita masing-masing.

Bunda Putri

19 Oktober 2013

Panggilan Bunda biasanya berkonotasi sosok yang sejuk, penuh pengertian, sabar, perhatian, sangat dekat dengan kita dan konotasi positif lainnya.  Sehingg orang suka dengan sosok yang dipanggil Bunda.

Tapi Bunda yang satu ini sangat berbeda. Siapa pun yang diberitakan punya hubungan dekat dengan sosok ini pasti langsung berdiri rambutnya. Bingung tak terkendali. Tak terkecuali orang nomor 2 dan nomor 1 di negeri ini. Benar-benar sosok yang bisa bikin geger dunia persilatan.

Budiono, yang biasanya ‘no reken’ terhadap penilaian-penilaian negatif tentang dirinya, tiba-tiba saja merasa terusik ketika saudara perempuannya, Tutik, diberitakan dekat dengan Bunda Putri. Beberapa saat lalu, wakil presiden mengadakan konferensi pers. Dalam jumpa pers tersebut beliau hanya mengklarifikasi kalau saudaranya yang bernama Tuti itu memang kenal dengan Bunda Putri. Tapi sejauh ini saudara wakil presiden tersebut tidak pernah berhubungan bisnis dengan sosok misterius yang disebut sebagai Bunda Putri. Hubungan keduanya hanya sebatas kerja-sama sosial saja. Demikian penjelasan sang wapres.

Lain Boediono lain pula SBY. Jika Boediono menanggapi berita miring tentang saudaranya dengan cara yang relax, SBY justru menunjukkan sikap yang ‘sedikit’ emosional dan reaktif.

Adalah Luthfi Hasan Ishak ( LHI ), tersangka korupsi daging sapi, yang menyatakan dalam kesaksiannya, bahwa Bunda Putri mempunyai hubungan yang sangat dekat SBY. Kesaksian LHI kontan membuat SBY marah besar.

Barangkali karena marahnya dan keburu tidak telaten, begitu pulang dari lawatannya ke Brunei, turun dari pesawat di bandara, SBY langsung mengadakan jumpa pers. Pada acara jumpa pers itu SBY menyangkal kedekatannya dengan Bunda Putri. Bahkan, saat itu, SBY langsung memerintahkan para intelnya untuk menyelidiki siapa sejatinya Bunda Putri itu. ( http://nasional.kompas.com/read/2013/10/10/2241376/Presiden.Marah.Dikaitkan.dengan.Bunda.Putri )

Beberapa waktu lalu santer diberitakan pula di berbagai media jika  Bunda Putri merupakan sosok yang sangat  powerfull. Begitu powerfull-nya hingga mampu mempengaruhi dalan urusan reshufle kabinet. Tentu berita ini makin membuat Presiden naik pitam. Betapa tidak ? Reshufle kabinet merupakan hak preogratif presiden. Kalau ada isu yang menyatakan ada sosok yang dapat mempengaruhi Presiden dalam mereshufle kabinat, tentu dia merupakan orang hebat. Tentu Presiden sangat ‘hormat’ kepada beliau. Dan ini pasti hal yang memalukan bagi seorang presiden. Maka, pantaslah kalo Presiden sampai marah besar menanggapi isu ini.

Inilah tanggapan SBY terhadap tuduhan di atas :

“Bunda Putri orang yang sangat dekat dengan Presiden SBY, 1.000 persen Luthfi Bohong! Dia sangat tahu dengan kebijakan reshuffle, 2.000 persen bohong!” ucap SBY geram.

“Saya bukan pejabat kecengan. Mau reshuffle ngomong sama orang yang tidak jelas. Kemudian pernyataan seperti ini, sangat dekat dengan Presiden SBY, luar biasa. Semoga Allah mengampuni,” tuturnya.

Tulisan ini tidak untuk membahas kemarahan Presiden. Cuma ingin menanyakan beberapa misteri di seputar Bunda Putri. Misteri pertama adalah Bunda Putri itu riel ataukah tokoh rekaan belaka ?

Kalau riil, masak sampai hari ini belum juga ditemukan siapa itu Bunda Putri. Bahkan di dalam kemarahannya SBY memerintahkan intel-intelnya untuk mencari-tahu siapa Bunda Putri itu. Padahal, kalo saja mau, SBY tinggal menindak-lanjuti tuduhan LHI tentang kedekatannya dengan Bunda Putri pasti beres. Tapi ini kok malah dibikin tambah abstrak.

Jadi, menurut perkiraan saya, Bunda Putri ini adalah sosok imajiner belaka. Atau sebuah nama buatan untuk menyebut sosok tertentu, semacam nana Bento yang diidentikkan dengan sosok tertentu dari keluarga cendana, setidaknya demikian anggapan yg beredar di masyarakat.

Pertanyaan berikutnya, mengapa pula LHI membuat-buat tokoh imajiner ini ?

Menurut hemat saya, pertama, kemungkinan mantan ketua PKS ini ingin mengalihkan perhatian publik terhadap partainya. Kita tahu, begitu LHI ditakngkap KPK, nyaris setiap jam ada berita negatif tentang LHI dan partainya. PKS yang selama ini mem-branding diri sebagai partai bersih, menjadi porak poranda dihajar media masa dan lawan-lawan politiknya begitu LHI dituduh korupsi.

Jika keadaan seperti itu dibiarkan berlarut-larut, tentu akan berbahaya bagi masa depan PKS, apalagi pemilu sudah kurang setahun. Maka harus diambil langkah-langkah taktis, yaitu dengan cara mengalihkan perhatian publik. Bila alasan ini yang menjadi latar-belakang LHI memunculkan sosok Bunda Putri, maka taktik dia termasuk sukses. Betapa tidak ? Media dan tokoh-tokoh kita belakangan ini nyaris tidak pernah membicarakan lagi soal korupsi yang dilakukan LHI. Mereka juga sudah jarang menyudutkan PKS sehubungan dengan kasusnya LHI.

Kemungkinan kedua, sosok yang disebut Bunda Putri ini memang benar-benar ada, walau mungkin nama sebenarnya bukan Putri.

Sosok ini memang benar  bisa mempengaruhi Presiden dalam me-reshufle kabinetnya. Mungkon sosok ini yang menjadi kurir ketika para pimpinan partai yang tergabung dalam sesgab sedang melakukan politik dagang sapi. Tawar-menawar jabatan beserta kompensasinya.

Selama ini, seluruh pimpinan partai dan pihak-pihak lain yang berkepentingan merasa harus ‘mengamankan’ sosok tersebut. Namun, mungkin LHI saat ini sedang merasa dikhianati sokhibnya, maka dia buka sedikit demi sedikit sosok yang bernama Bunda Putri ini.

Atau mungkin ada kemungkinan lain ?

( Bukan ) RSBI

15 Januari 2013

Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya membatalkan Pasal 50 ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjadi dasar pembentukan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Artinya keberadaan RSBI dan SBI dihapuskan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Bubarkan RSBI

Bubarkan RSBI

Alasan MK mengabulkan gugatan terhadap status Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional ada dua hal. Pertama, status-status kelas Reguler, RSBI dan SBI memunculkan diskriminasi dalam pendidikan dan membuat sekat antara lembaga pendidikan. Sekat-sekat ini tidak hanya dalam hal status semata, tetapi berdampak pada ketidak-adilan dalam menikmati anggaran pemerintah yang diberikan kepada kelas-kelas RSBI.

Bagaimana reaksi sebagian pejabat kita menanggapi ‘pembreidelan’ tersebut ? Baca selengkapnya…

Membangun Brand Sekolah ( 2 )

10 Agustus 2012
Pada tulisan sebelumnya, Membangun Brand Sekolah 1, dijelaskan bahwa kekuatan sebuah brand adalah hasil kerja keras, perancangan strategi yang jitu dan eksekusi strategi yang mantap. Bukan sebuah hasil yang kebetulan. Dalam tulisan ini akan dijelaskan langkah-langkah membangun brand.Sebelum membahas langkah-langkah membangun brand sekolah, penulis mengingatkan bahwa di dalam sebuah brand terdapat janji yang akan diberikan kepada pelanggannya.Janji itu harus ditepati. Karena, jika tidak dipenuhi, ia akan menghancurkan brand.  Seperti dicontohkan pada sekolah yang jatuh dari kejayaan secara cepat akibat tidak mampu mewujudkan identitas yang melekat pada brandnya, pada tulisan Membangun Brand Sekolah 1. Oleh karena itu, sekolah harus hati-hati di dalam memilih tag line sebagai sarana mengkomunikasikan identitas brand. Sekolah harus mampu mengukur dirinya bahwa yang dijanjikan di dalam tag line akan mampu dipenuhi.
Baca selengkapnya…